MENU Friday, 17 Apr 2026
x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH TETAPT NYAMAN & PENUH PESONA [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [B#NEWS] MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [B#NEWS]

Demokrat Akhirnya Dukung Pilkada Lewat DPRD ; Langkah Pragmatisme?

6 minutes reading
Wednesday, 7 Jan 2026 11:12 212 BerageNews.Com

BerageNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Keputusan Partai Demokrat untuk mendukung usulan Pilkada melalui DPRD, yang diusung oleh Presiden Prabowo Subianto, mengguncang dunia politik Indonesia.

Pilkada yang sebelumnya diperjuangkan melalui pemilihan langsung oleh rakyat kini tergantikan oleh mekanisme yang lebih terpusat—melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Keputusan ini jelas bukan hanya soal perubahan sikap, tetapi juga tentang penyesuaian politik dan pragmatisme dalam sebuah sistem demokrasi yang dinamis.

Langkah Demokrat yang berbelok arah ini memantik berbagai reaksi, mulai dari kritik keras hingga dukungan dari pihak-pihak yang melihatnya sebagai langkah realistis di tengah pergulatan politik pasca-Pemilu 2024.

Partai yang dikenal sebagai penjaga prinsip demokrasi elektoral, dengan garis perjuangan yang dipimpin oleh pendirinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kini mengubah arah politiknya. Pertanyaannya, apakah ini menunjukkan bahwa pragmatisme kekuasaan telah mengalahkan konsistensi prinsip yang dulu dijunjung tinggi oleh partai ini?

Sejarah Singkat Perubahan Sikap Demokrat

Perubahan sikap Demokrat yang mendukung Pilkada melalui DPRD bukanlah hal yang terlepas dari sejarah panjang partai ini. Di tahun 2014, Demokrat secara tegas menolak gagasan Pilkada yang diselenggarakan melalui DPRD.

Ketika itu, Presiden SBY mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) yang membatalkan Undang-Undang Pilkada yang menghapus mekanisme pilkada langsung.

Sikap ini jelas menjadi bagian dari identitas politik Demokrat, yang memposisikan dirinya sebagai partai yang mengedepankan demokrasi, kedaulatan rakyat, dan partisipasi langsung dalam menentukan kepala daerah.

Namun, sikap ini kini tampaknya mengalami perubahan. Dalam beberapa waktu terakhir, seiring dengan bergulirnya dinamika politik pasca-pemilu, Demokrat memutuskan untuk beradaptasi dengan realitas politik baru di bawah pemerintahan Prabowo Subianto.

See also  Dari Jogja ke Bangka, dari Gerilya ke Meja Bundar ; Drama Besar Kedaulatan

Dalam sebuah pernyataan resmi, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Herman Khaeron, menjelaskan bahwa partainya sejalan dengan Presiden Prabowo dalam menanggapi sistem pemilihan kepala daerah. Menurutnya, baik pilkada langsung maupun melalui DPRD merupakan mekanisme yang sah dalam kerangka demokrasi Indonesia.

Menurut Herman, Pilkada melalui DPRD ini patut dipertimbangkan karena diyakini dapat meningkatkan efektivitas pemerintahan daerah, kualitas kepemimpinan, serta stabilitas politik nasional.

Argumennya, sistem ini dapat mengurangi biaya politik yang tinggi, serta mengatasi maraknya politik uang dan persoalan netralitas aparat. Tentunya, ini merupakan pandangan yang berbeda jauh dari sikap Demokrat sebelumnya yang menentang Pilkada lewat DPRD dengan alasan menguatkan kedaulatan rakyat.

Dinamika Politik Pasca-Pemilu 2024

Dukungan Demokrat terhadap Pilkada melalui DPRD tak bisa dipisahkan dari realitas politik pasca-Pemilu 2024. Setelah dua periode pemerintahan Joko Widodo, Demokrat berada di luar lingkar kekuasaan nasional.

Selama hampir satu dekade, partai ini bertahan di posisi oposisi. Namun, dengan bergabungnya Demokrat dalam koalisi besar pendukung Presiden Prabowo Subianto, pintu kekuasaan yang sempat tertutup akhirnya terbuka kembali.

Dalam sistem politik Indonesia yang semakin dikuasai oleh koalisi besar, konsistensi ideologi sering kali harus dihadapkan dengan pragmatisme. Partai-partai politik harus memilih antara mempertahankan prinsip-prinsip mereka atau beradaptasi dengan realitas kekuasaan yang ada.

Dalam hal ini, Demokrat memilih untuk mendukung Pilkada melalui DPRD sebagai bagian dari upaya untuk tetap relevan dalam percaturan politik nasional.

Keputusan ini tentu saja membawa Demokrat kembali ke pusat kekuasaan, meskipun harus menghadapi kritik tajam dari sejumlah kalangan yang menganggap partai ini telah mengorbankan prinsip demi kepentingan politik jangka pendek.

Pragmatism vs Idealism: Antara Konsistensi dan Adaptasi

Di tengah gelombang kritik yang datang, ada juga pendapat yang memandang keputusan ini sebagai langkah adaptasi yang realistis. Dalam dunia politik, konsistensi memang penting, namun, dalam beberapa kondisi, adaptasi terhadap realitas politik yang berubah bisa menjadi hal yang tak terhindarkan.

See also  Dari Terdampar Menjadi Ikon Bahari, Selamatkan KRI Teluk Bone 511

Dukungan terhadap Pilkada lewat DPRD juga bisa dilihat sebagai upaya Demokrat untuk bertahan di tengah arus politik yang semakin pragmatis. Dalam sistem presidensial yang sangat tergantung pada koalisi besar, perbedaan sikap terhadap agenda utama presiden bisa menempatkan sebuah partai kembali ke luar orbit kekuasaan.

Oleh karena itu, mendukung agenda Prabowo dalam masalah Pilkada bisa dilihat sebagai langkah strategis untuk memastikan bahwa Demokrat tetap berada di pusat pengambilan keputusan politik nasional.

Namun, ada juga kalangan yang melihat langkah ini sebagai langkah mundur bagi Demokrat. Mereka berpendapat bahwa perubahan sikap ini menunjukkan adanya ketidakkonsistenan dalam memperjuangkan prinsip-prinsip demokrasi yang dulu menjadi identitas partai.

Apakah langkah ini menggerus nilai-nilai perjuangan Demokrat yang selama ini mendengungkan kedaulatan rakyat dan pemilihan langsung oleh masyarakat? Ataukah ini hanya sebuah kompromi politik yang pragmatis untuk memastikan keberlanjutan eksistensi partai di dalam pemerintahan?

Sikap Kader Demokrat: Terbelah antara Idealism dan Realitas Politik

Keputusan DPP Partai Demokrat untuk mendukung Pilkada lewat DPRD juga tidak berjalan mulus di internal partai. Beberapa kader senior Demokrat, seperti Wasekjen Renanda Bachtar dan anggota DPR Benny K Harman, secara terbuka menolak gagasan tersebut.

Benny K Harman bahkan menilai skema Pilkada lewat DPRD bukanlah solusi atas mahalnya biaya politik, maraknya politik uang, dan netralitas aparat. Menurutnya, akar permasalahan terletak pada lemahnya regulasi, bukan pada mekanisme pemilihan langsung itu sendiri.

Namun, meskipun ada penolakan dari beberapa kadernya, keputusan DPP untuk mendukung wacana Pilkada lewat DPRD tetap dipertahankan. Herman Khaeron, dalam pernyataannya, menekankan bahwa dukungan Demokrat terhadap pilkada melalui DPRD bukan berarti partai ini menutup ruang bagi diskusi publik yang lebih luas.

See also  75 Tahun Indonesia–Iran, Rajo Ameh ; نَحْنُ إِخْوَةٌ (Nahnu Ikhwah)

Demokrat juga mendorong agar usulan ini dibahas secara serius dalam RUU Pemilu yang akan masuk dalam Prolegnas Prioritas 2026. Dengan demikian, Demokrat membuka ruang bagi pembahasan yang lebih mendalam terkait dengan sistem pilkada yang diinginkan masyarakat.

Peta Politik di Parlemen: Demokrat Kembali ke Arus Utama Kekuasaan

Dengan enam dari delapan fraksi di DPR mendukung wacana pilkada lewat DPRD, peta politik di parlemen semakin jelas. Selain Demokrat, Gerindra, Golkar, PAN, NasDem, dan PKB juga mendukung usulan tersebut, sementara PDIP menolak keras dan PKS menawarkan model alternatif.

Dengan demikian, keputusan Demokrat untuk mendukung pilkada melalui DPRD membawa partai ini kembali ke arus utama kekuasaan.

Demokrat kini berada dalam satu barisan dengan koalisi besar yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto. Sebuah perubahan yang cukup signifikan dari posisi partai ini yang sebelumnya menentang keras gagasan pilkada lewat DPRD.

Penutup: Langkah yang Tak Mudah Diterima

Keputusan Partai Demokrat untuk mendukung Pilkada lewat DPRD memang bukanlah langkah yang mudah diterima oleh sebagian besar kader dan pendukung setianya. Kritik terhadap perubahan sikap ini tentu datang, baik dari dalam maupun luar partai.

Namun, dalam politik, keputusan yang diambil tidak selalu hitam-putih. Terkadang, partai harus memilih antara bertahan dengan prinsip atau beradaptasi dengan dinamika yang ada.

Yang jelas, keputusan ini menandai babak baru dalam perjalanan politik Partai Demokrat, sebuah partai yang sempat menjadi garda terdepan dalam mempertahankan demokrasi elektoral di Indonesia.

Ke depan, hanya waktu yang akan membuktikan apakah langkah pragmatis ini akan membawa dampak positif bagi eksistensi Demokrat di kancah politik nasional, atau justru akan membuat partai ini kehilangan arah dan identitas politiknya yang telah terbangun sejak lama. | BerageNews.Com | */Redaksi | *** |

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Viewed Posts

LAINNYA
x