MENU Friday, 17 Apr 2026
x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH TETAPT NYAMAN & PENUH PESONA [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [B#NEWS] MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [B#NEWS]

Konflik di Medsos Ricuh, Polresta Pangkalpinang Upayakan Mediasi

6 minutes reading
Saturday, 20 Dec 2025 02:29 140 BerageNews.Com

BerageNews.Com | ArtaSAriMediaGroup ~ Dunia maya memang dapat menjadi ruang yang sangat luas untuk berinteraksi, berbagi informasi, serta mengekspresikan diri. Namun, dampak negatif dari interaksi di media sosial terkadang bisa berujung pada ketegangan yang meruncing, bahkan menimbulkan kericuhan.

Hal tersebut terjadi di Kota Pangkalpinang pada Jumat malam, 19 Desember 2025 lalu, ketika sekitar 200 orang yang dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat lokal yang dikenal sebagai Ibu Suri Wakanda, menggeruduk rumah dinas (rumdin) Kasat Pol PP Kota Pangkalpinang.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 21.20 WIB tersebut berawal dari sebuah perselisihan yang melibatkan dua pihak yang semula tidak dikenal, namun akhirnya mencuat ke publik melalui sebuah postingan di media sosial.

Tindak lanjut dari perselisihan tersebut tidak hanya melibatkan penyelesaian masalah melalui jalur hukum, tetapi juga menarik perhatian banyak netizen yang turut terlibat dalam eskalasi masalah.

Awal Perselisihan: Postingan di Media Sosial yang Memicu Ketegangan

Kejadian ini bermula dari sebuah live streaming di aplikasi TikTok yang dilakukan oleh Tiwi, seorang rekan dari Suri Wakanda, yang secara tidak sengaja menemukan sebuah postingan dari Gusti Dini Haryati, istri dari Kasat Pol PP Kota Pangkalpinang, Efran.

Dalam status tersebut, Dini menulis kalimat yang menurut Tiwi, berisi penghinaan terhadap anaknya. Postingan yang dianggap bermuatan penghinaan itu kemudian diperburuk dengan narasi dari Dini yang berbunyi: “Standby dirumah siapa tahu ada tamu yang nak datang”.

Postingan tersebut kemudian dianggap oleh Tiwi sebagai sebuah tantangan yang tidak pantas, yang memicu kemarahan pihak Suri Wakanda. Tiwi pun langsung menghubungi Suri Wakanda dan rekannya, Ama, dan mereka sepakat untuk melakukan aksi yang akan membawa mereka menuju rumah dinas Kasat Pol PP Pangkalpinang.

See also  Dari Jogja ke Bangka, dari Gerilya ke Meja Bundar ; Drama Besar Kedaulatan

Geruduk Rumah Dinas: Aksi yang Tembus 7.000 Penonton

Bersama dengan dua rekannya, Suri Wakanda mengajak pendukung-pendukungnya di media sosial untuk mengikuti aksi mereka menuju rumah dinas Dini Haryati. Dalam perjalanan menuju rumdin, mereka menggunakan aplikasi TikTok untuk melakukan live streaming, yang semakin memanaskan suasana.

Dalam rekaman live yang tembus hingga 7.000 penonton, Suri Wakanda dan rekannya mengeluarkan umpatan dan kata-kata yang berisi tantangan, serta menghina Dini dan suaminya secara langsung di depan rumah mereka.

Aksi ini mengundang perhatian banyak netizen, yang tidak hanya menjadi penonton tetapi juga memberi dukungan dengan berbagai komentar dan reaksi. Kericuhan semakin tidak terkendali ketika simpatisan yang menyaksikan siaran langsung mulai berdatangan ke lokasi. Suasana semakin tegang, dan ketegangan antar kedua belah pihak semakin tinggi.

Intervensi Kepolisian: Upaya Meredam Kericuhan

Ketika situasi semakin memanas, pihak Polresta Pangkalpinang yang menyadari adanya potensi kericuhan lebih besar segera mengirimkan pasukan Samapta, Pawas, dan piket fungsi untuk melakukan pengamanan dan meredam situasi. Petugas kepolisian datang ke lokasi untuk memberi imbauan kepada kedua belah pihak agar tidak melakukan tindakan anarkis dan untuk menghindari kerusuhan lebih lanjut.

Kepolisian kemudian mengundang kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah ini di kantor Polresta Pangkalpinang melalui mediasi yang diharapkan dapat meredakan ketegangan dan mencegah terjadinya hal-hal yang lebih buruk.

Sekitar pukul 21.48 WIB, rombongan Suri Wakanda dan simpatisannya tiba di Mapolresta Pangkalpinang. Tak lama kemudian, Dini Haryati dan suaminya, Efran, juga menyusul untuk ikut serta dalam mediasi tersebut.

Mediasi di Polresta Pangkalpinang: Mencari Jalan Tengah

Mediasi yang dimulai sekitar pukul 22.00 WIB, dihadiri oleh Kasat Reskrim Polresta Pangkalpinang, AKP Dr. Singgih Aditya Utama, yang berusaha menjadi penengah dalam proses mediasi antara kedua belah pihak.

See also  Sosialisasi P5HAM di Babel ; Melati, Dorong Pendidik Jadi Agen Perubahan

Dalam mediasi tersebut, pihak Suri Wakanda dan rekannya mengajukan beberapa tuntutan kepada Dini Haryati. Tuntutan tersebut antara lain meminta agar Dini membuat permohonan maaf secara terbuka di media sosial dan mencabut laporan pencemaran nama baik yang telah diajukan sebelumnya dengan menggunakan UU ITE.

Namun, mediasi yang diharapkan dapat mencapai kesepakatan damai justru menemui jalan buntu. Dini Haryati dan Suri Wakanda tetap pada pendiriannya, masing-masing menganggap bahwa tindakan mereka adalah langkah yang sah dan benar. Tiwi, sebagai pihak yang merasa terhina, tetap merasa bahwa postingan Dini memang berisi penghinaan yang seharusnya diberi sanksi. Di sisi lain, Dini berpendapat bahwa pernyataannya tidak dimaksudkan untuk menghina siapapun dan merasa tidak perlu untuk meminta maaf.

Pernyataan Kapolresta Pangkalpinang: Pentingnya Penyelesaian Damai

Meskipun mediasi tidak berhasil mencapai titik temu, AKP Dr. Singgih Aditya Utama, selaku Kasat Reskrim Polresta Pangkalpinang, berharap agar kedua belah pihak dapat lebih bijak dalam menyikapi permasalahan ini dan menjaga ketertiban.

“Kami berharap kedua belah pihak dapat menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin, saling menjaga ketertiban dan privasi masing-masing. Bijak dalam bermedia sosial sangat penting untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Apabila perlu, kami siap untuk menjembatani mediasi ulang, sehingga masalah yang berlarut-larut di media sosial ini bisa berakhir damai dan saling memaafkan,” ujar **AKP Dr. Singgih** dalam konferensi pers setelah mediasi.

Kasus ini juga menjadi pembelajaran bagi masyarakat tentang pentingnya etika berkomunikasi di media sosial. Media sosial memang dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk menyampaikan pendapat, tetapi apabila digunakan secara tidak bijak, bisa berpotensi menimbulkan permasalahan yang lebih besar. Untuk itu, saling menghormati dan berpikir panjang sebelum mengunggah sesuatu sangat penting agar kejadian serupa tidak terulang.

See also  Polemik Agraria & Bank Tanah ; Ketidaksinkronan Mengancam Keadilan Sosial

Pengaruh Media Sosial dalam Membentuk Opini Publik

Peristiwa ini juga menggambarkan bagaimana media sosial dapat mempengaruhi opini publik secara besar-besaran. Dalam kasus ini, aksi yang dimulai dari satu postingan status di media sosial langsung melibatkan ribuan orang yang sebagian besar adalah pendukung dari kedua pihak.

Ketegangan yang awalnya terjadi antara dua individu, melalui media sosial, berubah menjadi masalah yang melibatkan banyak orang, yang akhirnya berdampak pada ketertiban umum.

Dengan semakin populernya media sosial dalam kehidupan sehari-hari, penting bagi setiap individu untuk memahami tanggung jawab digital. Setiap unggahan, komentar, atau bahkan hanya status yang dianggap sepele, dapat menimbulkan dampak yang besar bagi diri sendiri dan orang lain.

Oleh karena itu, setiap pengguna media sosial perlu lebih berhati-hati dalam berinteraksi dan lebih bijaksana dalam mengunggah konten yang bisa berpotensi menyinggung atau merugikan pihak lain.

Pendidikan Media Sosial yang Bijak

Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat Pangkalpinang, khususnya, dan Indonesia pada umumnya, untuk lebih bijaksana dalam menggunakan media sosial. Kepolisian diharapkan dapat terus berperan sebagai penengah yang menyejukkan hati kedua belah pihak dan membantu masyarakat untuk lebih mengerti tentang etika berkomunikasi di dunia maya.

Penting untuk terus mengedukasi masyarakat tentang cara menggunakan media sosial dengan bijak, menjaga privasi, serta tidak terjebak dalam konflik yang hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran bagi kita semua dalam menghadapi dampak negatif dari penggunaan media sosial yang semakin meluas.

Aksi ini memang berakhir dengan mediasi yang belum mencapai kesepakatan, namun diharapkan ini dapat menjadi momentum bagi kita semua untuk menjaga kedamaian dan ketertiban, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya etika dalam bermedia sosial. | BerageNews.Com | */Redaksi | *** |

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Viewed Posts

LAINNYA
x