x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH TETAPT NYAMAN & PENUH PESONA [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [B#NEWS] MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [B#NEWS]

Ajudan Gubernur Maluku Minta Maaf Usai Ucapkan Kata Monyet

8 minutes reading
Thursday, 20 Aug 2026 08:22 115 BerageNews.Com

BerageNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Ajudan Gubernur Maluku yang dikenal dengan sapaan Rahim mengakui telah melontarkan kata “monyet” kepada seorang mahasiswa ketika rombongan Gubernur Maluku berada di lokasi kegiatan peringatan Hari Kemerdekaan.

Rahim menyampaikan permintaan maaf dan menegaskan bahwa ucapan tersebut, menurut versinya, ditujukan kepada individu yang bersangkutan dan bukan kepada masyarakat adat maupun kelompok tertentu.

Pengakuan tersebut disampaikan Rahim setelah pernyataannya dalam sebuah video menjadi perhatian publik dan memicu polemik.

Ia meminta persoalan tersebut tidak diperbesar serta berharap seluruh pihak dapat melihat kejadian secara utuh berdasarkan konteks yang melatarbelakanginya.

Rahim menjelaskan, peristiwa bermula ketika dirinya melihat sekitar enam orang bergerak mendekati Gubernur Maluku.

Menurutnya, salah seorang di antara mereka membawa benda yang bentuknya menyerupai bambu. Benda tersebut kemudian diketahui berisi surat dari Tua Adat Negeri Manusela.

Selain itu, terdapat orang lain yang membawa benda yang menyerupai spanduk atau karton manila. Dalam situasi tersebut, Rahim mengaku tidak langsung mengetahui isi maupun tujuan benda-benda yang dibawa mahasiswa.

Karena bentuk benda yang dibawa tidak dikenali pada saat kejadian, Rahim mengatakan dirinya sempat mencurigai kemungkinan adanya benda yang dapat membahayakan keselamatan Gubernur.

“Memang saya akui dan minta maaf, ucapan monyet itu saya lontarkan ke individu yang bersangkutan karena spontanitas, sebab kami sudah sampaikan ke yang bersangkutan tapi tidak diindahkan,” kata Rahim, dikutip dari media TajukMaluku.

Menurut Rahim, sebelum kejadian tersebut pihaknya telah meminta mahasiswa yang bersangkutan mengikuti prosedur resmi apabila ingin menyampaikan surat kepada Gubernur Maluku.

Surat tersebut, kata dia, seharusnya disampaikan melalui Kantor Gubernur Maluku dan tidak diserahkan secara langsung kepada gubernur ketika kegiatan sedang berlangsung.

Namun, menurut pengakuannya, mahasiswa tersebut tetap berusaha mendekati Gubernur Maluku meskipun telah diminta mengikuti prosedur yang telah disampaikan.

Situasi tersebut kemudian berlangsung secara spontan dan membuat Rahim mengeluarkan ucapan yang kini menjadi sumber polemik.

Rahim kembali menegaskan bahwa kata tersebut tidak ditujukan kepada masyarakat adat tertentu.

“Ucapan ‘monyet’ itu bukan sasarannya ke masyarakat adat tertentu, melainkan ke individunya yang sejak awal sudah kami jelaskan prosedurnya, itu spontanitas, bisa dilihat di video yang ada,” ujarnya.

Ia juga membantah adanya maksud untuk merendahkan harkat dan martabat mahasiswa maupun komunitas adat tertentu.

“Tidak ada sama sekali niat dan maksud saya pribadi untuk merendahkan harkat dan martabat manusia.

See also  HUT Ke-26 ; DWP Beltim Gelar Jalan Sehat, Tema Pendidikan Anak Bangsa

Itu spontanitas berdasarkan kondisi tadi. Tolong jangan digoreng seolah saya merendahkan dia atau komunitas adat tertentu,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi bagian dari klarifikasi Rahim terhadap polemik yang berkembang di ruang publik.

Ia mengaku telah beberapa kali menyampaikan prosedur kepada mahasiswa yang bersangkutan. Menurutnya, penyampaian surat maupun pelaksanaan aksi seharusnya dilakukan dengan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

“Kami sudah berulang kali menyampaikan kepada yang bersangkutan soal prosedur, tapi yang bersangkutan tetap ngotot untuk mendekat ke arah bapak,” tutup Rahim.

Polemik tersebut kini tidak hanya berkaitan dengan persoalan komunikasi antara ajudan dan mahasiswa.

Peristiwa itu juga menyentuh persoalan yang lebih luas mengenai etika komunikasi pejabat maupun aparat pendamping pejabat ketika berhadapan dengan masyarakat.

Kata “monyet” memiliki konotasi yang sensitif dalam komunikasi publik.

Karena itu, meskipun Rahim menyebut ucapan tersebut merupakan spontanitas dan tidak ditujukan kepada kelompok masyarakat tertentu, penggunaan kata tersebut tetap berpotensi menimbulkan tafsir yang berbeda di tengah masyarakat.

Terlebih, peristiwa terjadi ketika rombongan pejabat publik berada dalam sebuah kegiatan resmi yang melibatkan masyarakat.

Dalam situasi seperti itu, setiap ucapan maupun tindakan aparat pendamping pejabat dapat menjadi perhatian publik.

Bahasa yang digunakan memiliki konsekuensi lebih besar karena orang yang mengucapkannya berada dalam posisi yang melekat dengan pejabat negara atau pemerintah daerah.

Karena itu, permintaan maaf Rahim menjadi langkah awal yang penting untuk meredakan ketegangan. Namun, penyelesaian persoalan secara menyeluruh tetap membutuhkan klarifikasi dari seluruh pihak yang terlibat.

Masyarakat perlu mendapatkan gambaran utuh mengenai kronologi kejadian, termasuk alasan mahasiswa berusaha mendekati gubernur, prosedur yang telah disampaikan, bentuk benda yang dibawa, serta situasi keamanan pada saat kejadian.

Di sisi lain, hak masyarakat dan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi juga merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi.

Aspirasi tidak selalu harus berbentuk demonstrasi besar. Surat, audiensi, dialog, dan penyampaian pendapat secara langsung merupakan bentuk komunikasi antara masyarakat dan pemerintah sepanjang dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Pemerintah juga memiliki kewajiban menyediakan saluran komunikasi yang terbuka agar masyarakat dapat menyampaikan aspirasi tanpa harus mencari celah di tengah kegiatan pejabat.

Ketika prosedur komunikasi tersedia dan mudah diakses, potensi kesalahpahaman dapat ditekan.

Persoalan ini menjadi semakin penting di Maluku yang memiliki keragaman masyarakat, adat, dan komunitas. Identitas adat memiliki kedudukan sosial yang kuat dalam kehidupan masyarakat Maluku.

Karena itu, komunikasi publik harus dilakukan dengan kehati-hatian agar persoalan antara individu tidak berkembang menjadi persoalan antarkelompok.

See also  Rumah Mewah Dirobohkan, Sengketa Gono-Gini Berakhir Dramatis

Rahim telah memberikan penjelasan bahwa ucapan tersebut menurut versinya ditujukan kepada individu, bukan masyarakat adat.

Penjelasan tersebut perlu ditempatkan sebagai bagian dari klarifikasi, sementara penilaian mengenai kejadian secara keseluruhan harus tetap didasarkan pada fakta dan konteks yang dapat diverifikasi.

Publik juga perlu menghindari kesimpulan terburu-buru hanya berdasarkan potongan video atau informasi yang beredar di media sosial.

Potongan video dapat memperlihatkan bagian tertentu dari sebuah peristiwa, tetapi belum tentu menggambarkan seluruh rangkaian kejadian sebelum dan sesudahnya.

Karena itu, sikap kritis menjadi penting. Masyarakat berhak mempertanyakan ucapan pejabat atau pendamping pejabat, tetapi kritik sebaiknya tetap diarahkan pada tindakan dan fakta, bukan menyerang pribadi atau kelompok tertentu.

Begitu pula pihak pemerintah perlu membuka ruang klarifikasi secara transparan. Penjelasan yang cepat dan lengkap dapat mencegah berkembangnya spekulasi.

Peristiwa tersebut juga menjadi pembelajaran bagi aparat pendamping pejabat. Tugas ajudan tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan kelancaran kegiatan, tetapi juga membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam situasi yang dianggap berpotensi membahayakan, respons tegas memang diperlukan. Namun ketegasan tidak harus diwujudkan melalui kata-kata yang berpotensi merendahkan seseorang.

Komunikasi yang profesional dapat menjadi instrumen pencegahan konflik.

Ajudan atau petugas pengamanan dapat menyampaikan larangan mendekat secara jelas, meminta identitas, mengarahkan masyarakat ke jalur komunikasi resmi, atau meminta pihak terkait menyerahkan dokumen melalui petugas yang telah ditunjuk.

Pendekatan tersebut lebih konstruktif karena menjaga keamanan sekaligus menghormati masyarakat.

Hal serupa berlaku bagi masyarakat dan mahasiswa. Penyampaian aspirasi perlu dilakukan dengan memperhatikan situasi, prosedur keamanan, dan tata tertib kegiatan.

Keinginan bertemu pejabat publik harus disampaikan melalui cara yang tidak membahayakan pejabat maupun peserta kegiatan.

Dengan demikian, tanggung jawab menjaga komunikasi publik bukan hanya berada pada aparat, tetapi juga pada seluruh pihak.

Perbedaan pendapat adalah bagian dari demokrasi. Namun perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi penghinaan, intimidasi, ataupun tindakan yang memicu konflik sosial.

Dalam konteks Maluku, penyelesaian persoalan secara bijak sangat penting. Masyarakat memiliki tradisi sosial dan adat yang kuat dalam menyelesaikan berbagai persoalan melalui komunikasi dan musyawarah.

Semangat tersebut dapat menjadi jalan untuk meredakan polemik.

Permintaan maaf Rahim patut menjadi pintu awal bagi penyelesaian. Namun permintaan maaf juga sebaiknya diikuti evaluasi internal agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Pemerintah daerah dapat menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi mengenai standar komunikasi bagi pejabat, ajudan, pengamanan, dan petugas pelayanan publik.

Pelatihan komunikasi krisis, pengendalian emosi, pelayanan masyarakat, serta pemahaman terhadap sensitivitas sosial dan budaya dapat memperkuat profesionalisme aparat pendamping pejabat.

See also  Pemprov Babel Klarifikasi Polemik Pengadaan Mobiler Rumah Dinas Wagub

Sementara itu, masyarakat dapat mengambil pelajaran bahwa penyampaian aspirasi akan lebih efektif apabila dilakukan melalui jalur komunikasi yang jelas dan terorganisasi.

Tujuan akhirnya bukan memenangkan perdebatan, melainkan memastikan suara masyarakat dapat diterima pemerintah dan ditindaklanjuti secara konstruktif.

Peristiwa yang melibatkan Rahim tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa satu kata dapat memicu persoalan besar ketika diucapkan dalam situasi publik.

Kata-kata memiliki konsekuensi. Apalagi ketika disampaikan oleh seseorang yang berada dekat dengan pejabat publik.

Karena itu, profesionalisme tidak hanya diukur dari kemampuan menjaga keamanan, tetapi juga dari kemampuan menjaga sikap, ucapan, dan martabat semua pihak.

Pemerintah perlu memastikan masyarakat merasa dihormati ketika menyampaikan aspirasi. Sebaliknya, masyarakat juga perlu menghormati prosedur keamanan dan tata tertib kegiatan pemerintahan.

Jika kedua prinsip tersebut berjalan bersama, potensi konflik dapat diminimalkan.

Polemik ini sebaiknya tidak berkembang menjadi konflik identitas atau persoalan antarkelompok masyarakat. Fokus harus dikembalikan pada fakta: apa yang terjadi, mengapa terjadi, siapa yang terlibat, dan bagaimana penyelesaiannya.

Publik berhak menilai secara objektif berdasarkan informasi yang lengkap.

Di tengah derasnya arus informasi digital, klarifikasi menjadi semakin penting. Setiap pihak memiliki tanggung jawab untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi atau membangun kesimpulan yang dapat memperkeruh keadaan.

Maluku membutuhkan ruang dialog yang sehat, bukan pertentangan yang lahir dari kesalahpahaman.

Karena itu, pengakuan dan permintaan maaf Rahim dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi sekaligus memperbaiki komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Bagi pejabat dan aparat pendamping pejabat, pesan yang dapat diambil sangat jelas: tegas dalam menjalankan tugas, tetapi tetap santun dalam berkomunikasi.

Bagi mahasiswa dan masyarakat, pesan yang sama pentingnya: kritis dalam menyampaikan aspirasi, tetapi tetap menghormati prosedur dan keselamatan.

Pada akhirnya, penyelesaian polemik tersebut tidak seharusnya berhenti pada siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang lebih penting adalah memastikan kejadian serupa tidak terulang.

Etika komunikasi, penghormatan terhadap masyarakat, profesionalisme pengamanan, serta keterbukaan pemerintah harus berjalan beriringan.

Dengan demikian, persoalan yang sempat memicu polemik dapat menjadi pembelajaran bersama dan bukan menjadi sumber konflik baru.

Maluku memiliki kekayaan adat dan budaya yang harus dijaga. Setiap persoalan yang muncul di ruang publik harus diselesaikan dengan kepala dingin, penghormatan terhadap martabat manusia, dan semangat persaudaraan.

Klarifikasi telah disampaikan. Permintaan maaf telah diberikan. Kini seluruh pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan persoalan tersebut diselesaikan secara dewasa, objektif, dan konstruktif. | BerageNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Viewed Posts

Media Sosial

LAINNYA
x