x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH TETAPT NYAMAN & PENUH PESONA [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [B#NEWS] MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [B#NEWS]

Pakaian Adat Belitong, Jejak Sejarah & Identitas Melayu

8 minutes reading
Wednesday, 9 Sep 2026 08:48 286 BerageNews.Com

BerageNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Pakaian adat Belitong bukan sekadar busana tradisional yang digunakan dalam kegiatan resmi, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat yang memiliki jejak sejarah panjang.

Keberadaannya tercatat sejak masa kolonial melalui berbagai catatan dan dokumentasi, kemudian memperoleh landasan hukum melalui Peraturan Daerah Kabupaten Belitung Nomor 11 Tahun 2001 dan diperkuat Kabupaten Belitung Timur melalui Perda Nomor 11 Tahun 2015.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, pakaian adat dimaknai sebagai pakaian resmi khas daerah.

Pengertian tersebut menjadi relevan ketika melihat bagaimana masyarakat Belitong pada masa lalu mengenakan busana tertentu dalam kegiatan resmi, termasuk oleh para pemimpin lokal dan masyarakat dalam acara adat maupun kesenian.

Salah satu catatan awal mengenai pakaian resmi masyarakat Belitong dapat ditemukan dalam tulisan John Francis Loudon berjudul *De Eerste Jaren Der Billiton-onderneming* yang diterbitkan pada 1883.

Loudon merupakan salah satu pionir perusahaan tambang timah Billiton Maatschappij yang mulai menjalankan kegiatan di Pulau Belitung pada 1851.

Dalam catatannya, Loudon menggambarkan sebuah perayaan pada 13 Juni 1852 yang dihadirinya bersama pejabat dan masyarakat kampung di Tanjungpandan.

Dalam kesempatan tersebut, ia mencatat kedatangan Depati bersama masyarakat kampung dengan mengenakan pakaian resmi.

“Tadi pagi Depati dengan seluruh kampong datang mengucapkan selamat ke saya, semua dengan pakaian resmi, Dekker dan Van Hoeften berpakaian hitam.

Komandan militer dengan pakaian kebesaran, parade dengan 25 orang, lingkung kehormatan dibikin oleh Dekker dengan nama Pangeran dalam bahasa Belanda, Cina dan Melayu,” demikian catatan Loudon.

Istilah “pakaian resmi” dalam catatan tersebut berasal dari istilah Belanda *groot tenue*, yang secara umum dapat diterjemahkan sebagai pakaian lengkap atau pakaian kebesaran.

Istilah tersebut pada masa kolonial digunakan untuk menggambarkan busana resmi yang dikenakan dalam kegiatan seremonial.

Meski Loudon tidak menyebutkan nama khusus pakaian yang dikenakan Depati Belitong, catatannya menunjukkan bahwa busana memiliki posisi penting dalam ruang sosial dan pemerintahan pada masa itu.

Gambaran mengenai pakaian resmi masyarakat Belitong juga dapat ditelusuri melalui dokumentasi seorang kepala kampung bernama Kupa dari Teluk Pring.

Dalam sebuah foto tahun 1860, Kupa terlihat mengenakan jas dengan kalung tanda jasa.

Busana tersebut memberikan gambaran tentang cara pemimpin masyarakat lokal menampilkan identitas dan kedudukannya dalam lingkungan sosial pada masa tersebut.

See also  Ketika Aroma Kopi Mulai Memudar ; Manggar, Nostalgia 1001 Warung Kopi

Catatan lain datang dari Cornelis de Groot melalui bukunya yang terbit pada 1887. Ia menjelaskan bahwa pakaian masyarakat pribumi Belitong atau Orang Darat tidak terlalu berbeda dengan pakaian Melayu.

Menurut De Groot, seorang kepala kampung mengenakan jas lakon berwarna hitam yang tertutup tinggi dengan kerah berdiri. Busana tersebut dilengkapi sarung sebagai bagian dari pakaian.

“Di luar rumah laki-laki biasanya memakai celana pendek lebar, yang diikat dengan sebuah gesper terikat di atas pinggangnya, di atas mana sebuah kain sarung setengah digulung dan setengah digantung sampai di atas lutut,” tulis De Groot dalam catatannya.

Menariknya, deskripsi tersebut memiliki kemiripan dengan dokumentasi foto masyarakat Belitong pada awal abad ke-20. Salah satunya foto tahun 1925 yang memperlihatkan sejumlah lurah di Belitong sedang berfoto bersama.

Foto yang diposting Tasya Hadi pada 25 September 2021 tersebut disebut berasal dari reproduksi arsip keluarga Sihan. Pada bagian belakang foto terdapat tulisan tangan yang berkaitan dengan keluarga Lurah Lasar pada masa itu.

Dalam keterangan foto tersebut, pakaian yang dikenakan para lurah disebut sebagai pakaian adat. Namun, dokumentasi itu tidak mencantumkan nama khusus mengenai bentuk pakaian yang digunakan.

Jejak pakaian tradisional Belitong juga terlihat dalam kesenian daerah, salah satunya Tari Campak.

Keterangan mengenai kesenian tersebut tercatat dalam buku *Propinsi Sumatera Selatan* yang diterbitkan Kementerian Penerangan pada 1953.

Buku tersebut menyebut Campak sebagai tarian yang berasal dari Pulau Belitung. Dalam pementasannya, penari perempuan mengenakan baju kurung, sementara penari laki-laki memakai pakaian teluk belanga, peci dan kain setengah tiang.

“Pakaian penari Tjampak ini tak ubahnja seperti pakaian Melaju,” demikian keterangan dalam buku tersebut.

Catatan sejarah tersebut memperlihatkan bahwa pakaian masyarakat Belitong berkembang dalam hubungan erat dengan tradisi Melayu.

Namun, perjalanan sejarah juga menunjukkan bahwa identitas budaya Belitong tidak berdiri sendiri. Pulau ini sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat dari sejumlah daerah di Nusantara.

Perkembangan masyarakat tersebut kemudian tercermin dalam pakaian adat yang secara resmi ditetapkan pemerintah daerah.

Kabupaten Belitung menetapkan pakaian adat melalui Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pakaian Adat dan Rumah Adat Belitong. Perda tersebut ditetapkan pada 4 Oktober 2001 oleh Bupati Ishak Zainudin.

Dalam regulasi itu, pakaian adat Belitong didefinisikan sebagai pakaian adat yang digunakan pada kegiatan-kegiatan tertentu. Pakaian adat dibagi menjadi dua kelompok, yakni pakaian adat pria dan pakaian adat wanita.

See also  Misi Besar Rudianto Tjen, Nyalakan Kembali Cahaya Hidup Warga Babel

Untuk pria, terdapat dua bentuk utama, yaitu Bajuk Kancing Limak dan Bajuk Teluk Belange.

Bajuk Kancing Limak memiliki ciri leher pendek berkancing lima, tiga kantong model tebok atau lubang, lengan panjang lurus tanpa kancing, celana potongan sepan biasa, kain pelekat bermotif Cencang Nangka serta kopiah hitam polos.

Sementara Bajuk Teluk Belange memiliki leher bulat dengan lima kancing, tiga kantong, lengan panjang lurus, celana dengan karet atau tali, kain pelekat bermotif Cencang Nangka dan kopiah hitam polos.

Pakaian adat perempuan terdiri atas Bajuk Kebayak Panjang dan Bajuk Kurong.

Bajuk Kebayak Panjang memiliki bentuk leher kebaya, tiga kancing dan lengan panjang. Bagian bawah menggunakan kain batik bermotif Pucuk Rebung serta sanggul jenis cumpok.

Pelengkapnya dapat berupa tusuk konde atau kembang goyang, kalung dan selendang.

Adapun Bajuk Kurong mempunyai leher bulat terbelah, lengan panjang dengan kike’, kain batik bermotif Pucuk Rebung serta sanggul cumpok. Aksesori yang digunakan antara lain tusuk konde atau kembang goyang, kalung dan selendang.

Penggunaan pakaian adat tersebut juga telah diatur.

Pakaian adat Belitong digunakan antara lain pada peringatan hari ulang tahun Kota Tanjungpandan, rapat adat di tingkat kabupaten, kecamatan, desa atau kelurahan, serta acara resmi maupun tidak resmi yang bukan merupakan acara kenegaraan.

Namun, Perda Kabupaten Belitung Nomor 11 Tahun 2001 belum memberikan uraian mengenai sejarah maupun makna filosofis setiap bagian pakaian. Lampiran regulasi lebih banyak berisi spesifikasi dan sketsa pakaian.

Setelah pemekaran wilayah, Kabupaten Belitung Timur kemudian menetapkan regulasi tersendiri melalui Perda Nomor 11 Tahun 2015 tentang Rumah Adat, Pakaian Adat dan Pakaian Pengantin Adat Melayu Belitong di Kabupaten Belitung Timur.

Secara umum, bentuk pakaian yang ditetapkan hampir sama. Perbedaannya terutama terlihat pada istilah penyebutan.

Jika Perda Kabupaten Belitung menggunakan istilah pakaian adat pria dan wanita, Perda Belitung Timur menggunakan istilah Pakaian Adat Laki dan Pakaian Adat Bini.

Bentuknya tetap terdiri atas Bajuk Kancing Limak dan Bajuk Teluk Belange untuk laki-laki serta Bajuk Kebayak Panjang dan Bajuk Kurong untuk perempuan.

Pada Bajuk Kebayak Panjang, Perda Belitung Timur juga mencantumkan istilah tambahan berupa bajuk seting.

Hal penting dalam Perda Belitung Timur adalah adanya penjelasan mengenai makna filosofis yang terkandung dalam setiap unsur pakaian.

Lima kancing pada pakaian laki-laki dimaknai sebagai lambang Rukun Islam. Leher bulat menggambarkan kebulatan tekad dan persatuan dalam membangun daerah.

See also  SMA Unggul Garuda Bentuk Karakter Lewat Tes Psikologi

Tiga saku dimaknai sebagai kerukunan antarumat beragama, sedangkan lengan panjang melambangkan semangat gotong royong.

Bagian badan baju mencerminkan penghormatan masyarakat Melayu Belitong terhadap adat istiadat leluhur. Celana panjang melambangkan keuletan dalam bekerja.

Kain sarung menggambarkan kesatuan dalam kebhinekaan masyarakat yang terdiri atas berbagai suku bangsa.

Sementara penggunaan kain sebatas bawah lutut dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap tata susila, menutup aurat dan menjaga kehormatan pribadi.

Pada pakaian perempuan, kebaya panjang atau bajuk kurong melambangkan kebulatan tekad untuk menjaga kelestarian adat istiadat daerah. Unsur kike’ dimaknai sebagai hubungan, ikatan dan kesatuan dalam menjaga adat Melayu Belitong.

Lengan panjang melambangkan sikap cekatan, keterampilan dan keluasan sumber daya. Kain menjadi simbol penghormatan terhadap adat dan kebudayaan daerah.

Gelang dan anting-anting dimaknai sebagai simbol ikatan kekeluargaan serta gotong royong. Sementara pending melambangkan persatuan masyarakat Belitong yang berasal dari berbagai suku bangsa di Indonesia.

Makna tersebut menunjukkan bahwa pakaian adat bukan sekadar persoalan bentuk, warna dan aksesori.

Di dalamnya terdapat pesan mengenai agama, persatuan, kerja keras, gotong royong, tata krama, kebhinekaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.

Karena itu, keberadaan pakaian adat Belitong memiliki arti penting bagi generasi sekarang.

Busana tradisional dapat menjadi media pendidikan budaya yang memperkenalkan sejarah daerah kepada anak-anak dan generasi muda dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di tengah perubahan zaman, pelestarian pakaian adat juga tidak cukup hanya dengan mengenakannya pada acara seremonial.

Pengetahuan mengenai sejarah, filosofi dan tata penggunaannya perlu terus diwariskan agar pakaian adat tidak berubah menjadi sekadar simbol tanpa pemahaman.

Sekolah, komunitas budaya, pemerintah daerah, pelaku seni dan keluarga memiliki ruang yang sama untuk menjaga keberlanjutan pengetahuan tersebut.

Dokumentasi sejarah, pengarsipan foto lama, penelitian, pementasan seni, hingga pemanfaatan media digital dapat menjadi cara baru untuk memperkenalkan pakaian adat Belitong kepada masyarakat yang lebih luas.

Bagi masyarakat Belitong, pakaian adat pada akhirnya bukan hanya pakaian resmi khas daerah.

Ia merupakan bagian dari perjalanan sejarah yang mempertemukan tradisi Melayu, kehidupan masyarakat lokal dan keberagaman suku bangsa yang berkembang di Pulau Belitung.

Ketika pakaian adat dikenakan dengan memahami maknanya, masyarakat tidak hanya sedang memakai busana warisan leluhur.

Mereka juga sedang menyampaikan pesan bahwa adat, persatuan, gotong royong dan kebhinekaan tetap memiliki tempat penting dalam kehidupan Belitong masa kini dan masa mendatang. | BerageNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Viewed Posts

Media Sosial

LAINNYA
x