x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH TETAPT NYAMAN & PENUH PESONA [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [B#NEWS] MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [B#NEWS]

Kapal Setara Giuseppe Garibaldi, dari Harrier hingga KRI Gajah Mada

7 minutes reading
Wednesday, 16 Sep 2026 16:23 37 BerageNews.Com

BerageNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Kapal induk ringan Giuseppe Garibaldi yang kini dalam perjalanan menuju Indonesia menempatkan kembali kelas kapal induk berukuran menengah dengan konsep short take-off and vertical landing (STOVL) dalam perhatian publik.

Kapal perang Italia berbobot sekitar 13.850 ton dan panjang 180,2 meter tersebut dirancang untuk mengoperasikan pesawat AV-8B Harrier II Plus serta berbagai helikopter, sehingga secara konsep lebih dekat dengan kapal induk ringan atau through-deck aircraft carrier dibandingkan kapal induk superberat.

Garibaldi dibangun di Monfalcone, Italia, mulai akhir dekade 1970-an, diluncurkan pada 1983 dan masuk dinas Angkatan Laut Italia pada 1985.

Hampir empat dekade kemudian, kapal itu dipensiunkan dari Angkatan Laut Italia pada 2024 setelah menjalankan berbagai fungsi, termasuk proyeksi penerbangan laut dan operasi amfibi.

Italia kemudian memilih menghibahkan kapal tersebut kepada Indonesia dalam rangka kerja sama pertahanan kedua negara.

Perjalanan Garibaldi menuju Indonesia kini bukan lagi sekadar rencana. TNI AL menyebut kapal tersebut telah memasuki kawasan Laut Arab dan dijadwalkan tiba di Indonesia sekitar 17 September 2026 apabila tidak terjadi kendala.

Kapal masih dikawal unsur Angkatan Laut Italia dan akan disambut kapal perang Indonesia ketika memasuki wilayah perairan nasional.

Setelah tiba, kapal tersebut direncanakan berganti bendera dan nama menjadi KRI Gajah Mada.

TNI AL sebelumnya menyampaikan bahwa proses pengukuhan dan pergantian bendera direncanakan pada 25 September 2026. Dengan demikian, sejarah Giuseppe Garibaldi memasuki babak baru dalam struktur kekuatan laut Indonesia.

Secara teknis, Garibaldi memiliki konfigurasi yang menarik.

Data resmi Angkatan Laut Italia mencatat panjang kapal mencapai 180,2 meter, lebar 23,4 meter pada garis air dan 30,4 meter pada dek penerbangan, dengan bobot perpindahan penuh 13.850 ton.

Kapal menggunakan empat turbin gas LM-2500 dengan daya total 60.400 kilowatt dan mampu mencapai kecepatan sekitar 30 knot.

Dek penerbangan menjadi ciri paling penting. Garibaldi dirancang untuk mengoperasikan pesawat STOVL AV-8B Harrier II Plus dan berbagai helikopter.

Dalam konfigurasi Italia, kapal tersebut dapat membawa kombinasi hingga sekitar 18–20 pesawat dan helikopter sesuai kebutuhan misi.

Konsep tersebut membuat Garibaldi berbeda dari kapal induk konvensional berukuran raksasa yang menggunakan catapult untuk meluncurkan pesawat dan arresting gear untuk membantu pendaratan.

See also  Membangun Masa Depan Pendidikan di Beltim melalui SMA Garuda

Kapal STOVL mengandalkan kemampuan khusus pesawat untuk lepas landas dalam jarak pendek dan melakukan pendaratan vertikal.

Dalam sejarahnya, Italia mengembangkan kemampuan penerbangan sayap tetap berbasis kapal secara bertahap. Angkatan Laut Italia mencatat bahwa penerbangan Sea Harrier pernah diuji di kapal Andrea Doria pada 1967.

Revolusi berikutnya terjadi ketika Garibaldi masuk dinas pada 1985 dan membuka jalan bagi pengoperasian pesawat Harrier dari kapal Italia.

Italia kemudian memperoleh AV-8B Plus sebagai pesawat sayap tetap yang dapat dioperasikan dari Garibaldi.

Dua pesawat latih TAV-8B pertama diterima pada 1991, disusul pesawat tempur AV-8B Plus sehingga total Harrier yang diperoleh Angkatan Laut Italia mencapai 18 unit.

Jika dibandingkan dengan kapal lain, salah satu pasangan paling menarik adalah Príncipe de Asturias milik Spanyol.

Kapal ini masuk dinas pada 1988 dengan panjang sekitar 198 meter dan perpindahan 16.700 ton.

Angkatan Laut Spanyol menyebut kapal tersebut mampu membawa hingga 25 pesawat, dengan dek penerbangan dilengkapi ski-jump 12 derajat untuk membantu operasi pesawat.

Príncipe de Asturias juga mengoperasikan AV-8B Harrier II Plus dan berbagai helikopter.

Dengan ukuran lebih besar dibanding Garibaldi, kapal Spanyol itu tetap berada dalam keluarga konsep yang sama: kapal induk ringan dengan dek penuh dan kemampuan operasi pesawat STOVL.

Hubungan desain bahkan lebih jelas terlihat pada HTMS Chakri Naruebet milik Thailand. Kapal tersebut dibangun di Spanyol berdasarkan desain yang berasal dari keluarga Príncipe de Asturias.

Dengan panjang keseluruhan sekitar 182,65 meter dan perpindahan sekitar 11.486 ton saat muatan penuh, ukurannya sangat dekat dengan Garibaldi.

Namun, klasifikasi dan penggunaan aktual Chakri Naruebet mengalami perkembangan.

Kapal tersebut saat ini lebih banyak berfungsi sebagai kapal pembawa helikopter, sedangkan pada masa operasional pesawat sayap tetapnya, kapal itu menjadi salah satu kapal induk ringan paling kecil yang pernah mengoperasikan pesawat tempur berbasis kapal.

Kapal lain yang sering dibandingkan adalah kelas Invincible milik Inggris.

HMS Invincible dan kapal sekelasnya memiliki perpindahan sekitar 22.000 ton serta panjang 209 meter. Kapal-kapal tersebut mengandalkan ski-jump dan pesawat Sea Harrier untuk menjalankan konsep STOVL.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa Invincible bukanlah kapal yang identik dengan Garibaldi.

Ukurannya lebih besar dan kapasitas operasinya berbeda. Namun, keduanya memiliki kesamaan mendasar dalam konsep penggunaan pesawat STOVL dan helikopter dari dek penerbangan penuh.

See also  Pemprov Babel Klarifikasi Polemik Pengadaan Mobiler Rumah Dinas Wagub

Karena itu, penyebutan Garibaldi sebagai kapal yang “setara” dengan ketiga kapal tersebut sebaiknya dipahami dalam konteks kelas kemampuan dan filosofi desain, bukan berarti spesifikasinya sama persis.

Garibaldi lebih dekat dengan kelompok kapal induk ringan berukuran sekitar belasan ribu ton.

Perkembangan terbaru justru membuat Garibaldi menarik bagi Indonesia bukan karena kemampuan Harrier-nya. Pemerintah dan TNI AL menyatakan kapal tersebut akan dimodifikasi untuk mendukung pengoperasian helikopter dan drone.

Presiden Prabowo Subianto juga menyampaikan bahwa kapal tersebut akan diarahkan menjadi kapal induk helikopter dan wahana nirawak.

KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali menjelaskan Garibaldi dapat digunakan sebagai pangkalan bergerak bagi lebih dari 10 helikopter.

Helikopter dari berbagai matra dapat ditempatkan di kapal untuk mendukung operasi, termasuk penanggulangan kebakaran hutan dan lahan melalui metode water bombing.

Konsep penggunaan tersebut memperluas fungsi kapal dari sekadar platform militer menjadi instrumen respons bencana.

Kapal dapat membawa unsur udara mendekati wilayah terdampak sehingga jarak antara pangkalan dan lokasi operasi dapat dipangkas.

Pakar pertahanan Gerry Soejatman mengingatkan bahwa penggunaan kapal induk harus disesuaikan dengan kebutuhan pertahanan Indonesia.

Ia membedakan kapal induk dengan kemampuan air wing besar dari kategori light aircraft carrier seperti Giuseppe Garibaldi.

Pandangan tersebut sejalan dengan kajian RSIS yang menilai nilai strategis Garibaldi tidak hanya bergantung pada kapalnya, tetapi pada kemampuan Indonesia menghasilkan, memelihara, melatih awak, dan mengoperasikan kekuatan tersebut secara berkelanjutan.

Kajian tersebut menyebut kemungkinan penggunaan awal Garibaldi untuk helikopter, bantuan kemanusiaan, penanggulangan bencana, serta kemungkinan berkembang menjadi platform hibrida berawak dan nirawak.

Kajian tersebut penting karena kapal induk bukan sekadar membeli atau menerima sebuah lambung kapal.

Di belakangnya terdapat kebutuhan awak terlatih, pemeliharaan, doktrin operasi, sistem komunikasi, fasilitas pangkalan, logistik, suku cadang, serta armada pengawal.

Indonesia sendiri telah mengirim sekitar 100 personel untuk mengikuti pelatihan terkait pengoperasian kapal tersebut di Italia.

Langkah itu menunjukkan bahwa transfer kapal membutuhkan proses pembangunan kemampuan manusia, bukan hanya proses administrasi pengalihan aset.

Dari sisi industri, transfer Garibaldi juga membuka peluang bagi pengembangan kemampuan galangan dan industri pertahanan nasional.

Naval News melaporkan bahwa modernisasi platform direncanakan melibatkan industri Indonesia setelah kapal tiba, sementara sejumlah perusahaan Italia berpotensi terlibat pada peningkatan sistem tertentu.

Pada saat yang sama, sejumlah analis mempertanyakan bagaimana Indonesia memastikan kapal tersebut tidak berhenti sebagai simbol.

See also  Klaim Kematian Pangeran Saudi Jadi Sorotan Publik

Perhatian mereka tertuju pada biaya perawatan, kesiapan awak, frekuensi pelayaran, integrasi dengan kapal perang lain, serta ketersediaan wahana udara yang sesuai.

Pertanyaan tersebut konstruktif karena ukuran kapal tidak otomatis menentukan efektivitas sebuah kekuatan laut. Kapal induk bekerja sebagai bagian dari sistem yang lebih besar.

Ia membutuhkan kapal pengawal, perlindungan udara, kemampuan antikapal selam, logistik, sistem komando, serta kelompok udara yang siap beroperasi.

Garibaldi juga memiliki sejarah panjang sebagai kapal perang Italia. Selama hampir 40 tahun, kapal ini menjadi salah satu instrumen penting proyeksi penerbangan laut Italia sebelum perannya digantikan oleh kapal yang lebih baru.

Cavour kemudian mengambil posisi utama sebagai kapal induk Italia yang mampu mengoperasikan F-35B, sementara Trieste mengambil peran besar dalam kemampuan amfibi.

Kini, sejarah itu berlanjut di Indonesia.

Giuseppe Garibaldi tidak datang sebagai kapal induk supercarrier dengan ratusan pesawat, melainkan sebagai platform penerbangan laut berukuran menengah yang akan diarahkan pada kebutuhan Indonesia.

Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, nilai sebuah kapal semacam ini pada akhirnya ditentukan oleh bagaimana kapal tersebut digunakan.

Jika terintegrasi dengan sistem pertahanan, operasi kemanusiaan, penanggulangan bencana, helikopter, drone, dan pengembangan kemampuan personel, Garibaldi dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran strategis TNI AL.

Sebaliknya, tantangan pemeliharaan dan kesiapan operasional harus dijawab secara terbuka dan terukur. Kapal induk bukan hanya simbol kebanggaan nasional, tetapi sistem kompleks yang membutuhkan investasi jangka panjang.

Perjalanan Garibaldi menuju Indonesia pada September 2026 karena itu bukan sekadar perpindahan sebuah kapal perang dari Eropa ke Asia.

Peristiwa tersebut menandai dimulainya babak baru bagi kemampuan penerbangan laut Indonesia sekaligus ujian bagi kesiapan sumber daya manusia, industri pertahanan, doktrin, logistik, dan strategi maritim nasional.

Dari Harrier Italia, dek penerbangan Spanyol, pengalaman Thailand, hingga warisan kapal kelas Invincible Inggris, sejarah kapal induk ringan menunjukkan satu pelajaran penting: kekuatan sebuah kapal tidak hanya terletak pada ukuran lambungnya, tetapi pada kemampuan negara mengintegrasikan kapal, manusia, teknologi, doktrin, dan tujuan penggunaannya.

Bila Garibaldi kelak resmi menjadi KRI Gajah Mada, tantangan sesungguhnya baru dimulai.

Bukan sekadar bagaimana kapal itu terlihat gagah di dermaga, melainkan bagaimana ia dapat memberikan manfaat nyata bagi pertahanan, keselamatan, kemanusiaan, dan kepentingan masyarakat Indonesia. | BerageNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Viewed Posts

Media Sosial

LAINNYA
x