x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH TETAPT NYAMAN & PENUH PESONA [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [B#NEWS] MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [B#NEWS]

Kelok 23 Yogyakarta dan Kelok 44 Sumbar, Dua Jalur Ikonik Penuh Pesona

7 minutes reading
Tuesday, 15 Sep 2026 15:40 136 BerageNews.Com

BerageNews.Com | ArtaSariMediaGroup ~ Kehadiran Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) Kelok 23 yang menghubungkan Kretek, Bantul, dengan Girijati, Purwosari, Gunungkidul, diharapkan tidak sekadar menjadi jalan alternatif bagi pengguna kendaraan, tetapi juga membuka wajah baru pariwisata dan ekonomi kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap kemudahan akses tersebut dapat membuat wisatawan menambah tujuan perjalanan sekaligus memperpanjang lama tinggal mereka di Yogyakarta.

Harapan itu disampaikan Sultan setelah Kelok 23 mulai menjalani uji coba pembukaan lalu lintas pada Senin, 14 September 2026.

Masa uji coba berlangsung selama tujuh hari hingga 20 September 2026, dengan jam operasional terbatas pukul 06.00 hingga 18.00 WIB. Untuk sementara, kendaraan berat belum diperbolehkan melintas.

“Ya harapan saya ya hati-hati aja. Karena itu tantangan sendiri dengan Kelok 23 itu, harus hati-hati, itu aja,” ujar Sultan, mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan keindahan jalur tersebut sebagai alasan mengabaikan keselamatan.

Bagi Sultan, Kelok 23 bukan hanya persoalan infrastruktur. Jalan tersebut merupakan fasilitas publik yang dapat memperlancar konektivitas masyarakat sekaligus memperluas pilihan perjalanan wisatawan di kawasan selatan Yogyakarta.

“Bisa ada tujuan yang lebih. Harapan saya membawa konsekuensi harinya bertambah,” lanjut Sultan.

Pernyataan tersebut menyiratkan target yang lebih besar daripada sekadar mempersingkat waktu perjalanan.

Akses baru diharapkan menciptakan pola perjalanan wisata yang lebih panjang, menyebar dan memberikan manfaat ekonomi kepada lebih banyak wilayah.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Eling Priswanto menilai Kelok 23 memberikan dampak positif dari sisi aksesibilitas. Wisatawan yang berada di kawasan pantai Bantul, seperti Parangtritis, kini memiliki pilihan akses yang lebih mudah menuju kawasan pantai Gunungkidul tanpa harus memutar melalui jalur perkotaan.

Jalur itu juga berpotensi menjadi titik panorama dan tempat singgah karena menyuguhkan bentang perbukitan serta pemandangan pesisir selatan.

“Kelok 23 sendiri berpotensi menjadi objek wisata panorama/foto dan titik singgah,” kata Eling.

Potensi tersebut menjadi menarik karena sebuah jalan yang semula dibangun untuk konektivitas dapat berkembang menjadi bagian dari pengalaman wisata itu sendiri.

Wisatawan tidak hanya melewati jalan untuk mencapai destinasi, tetapi juga dapat berhenti, menikmati panorama, mengambil gambar dan membelanjakan uangnya di kawasan sekitar.

Dari sisi lalu lintas, Kelok 23 juga diharapkan membantu mengurangi kepadatan kendaraan pada jalur utama, terutama ketika arus wisata meningkat pada akhir pekan, musim liburan dan hari-hari tertentu.

See also  Revolusi Gizi & Pangan Nasional ; Langkah Presiden Bangun Generasi Emas

Kehadiran akses alternatif dapat membuat pergerakan wisatawan lebih tersebar sehingga tidak seluruh kendaraan bertumpu pada satu koridor.

Namun, pemerintah mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menganggap Kelok 23 sudah beroperasi secara penuh.

Selama masa trial open traffic, masyarakat wajib mematuhi rambu, arahan petugas dan pembatasan kendaraan. Pemerintah juga masih melakukan evaluasi terhadap kondisi jalan sebelum pembukaan secara lebih luas.

Jalur baru tersebut memiliki panjang sekitar lima kilometer dan pembangunannya telah rampung pada Agustus 2026.

Uji coba lalu lintas menjadi tahapan penting untuk melihat kesiapan operasional jalan sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang mungkin muncul setelah digunakan masyarakat.

Di balik pembangunan infrastruktur tersebut terdapat harapan terhadap pertumbuhan ekonomi baru.

Kawasan sekitar Bantul Selatan dan Gunungkidul Barat berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya mobilitas masyarakat dan wisatawan.

Peluang itu dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari warung makan, kedai kopi, tempat istirahat, toko oleh-oleh, usaha fotografi, jasa transportasi hingga penginapan.

Jika dikelola dengan baik, lalu lintas wisatawan dapat menjadi pasar baru bagi pelaku UMKM lokal.

Namun, pengalaman daerah lain menunjukkan bahwa jalur panorama tidak otomatis menjadi destinasi wisata yang berhasil.

Dibutuhkan pengelolaan kawasan, kebersihan, keamanan, tempat parkir, toilet, fasilitas istirahat, rambu yang memadai serta pengaturan aktivitas usaha agar tidak mengganggu keselamatan pengguna jalan.

Di sinilah Kelok 23 dapat belajar dari sebuah ikon jalan di Sumatera Barat yang jauh lebih dahulu dikenal masyarakat luas: Kelok 44 di Kabupaten Agam.

Kelok 44 merupakan jalan berliku yang berada di kawasan perbukitan di atas Danau Maninjau. Sesuai namanya, jalur tersebut memiliki 44 tikungan yang diberi nomor berurutan.

Pemerintah Kabupaten Agam bahkan secara resmi menempatkan Kelok 44 sebagai salah satu objek wisata alam yang menawarkan panorama Danau Maninjau, perbukitan dan hamparan persawahan.

Kelok 44 bukan sekadar jalur transportasi. Jalan tersebut telah berkembang menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Agam. Dari jalur perbukitan, wisatawan dapat menikmati panorama Danau Maninjau dan lanskap Bukit Barisan.

ANTARA mencatat Kelok 44 memiliki panjang sekitar enam kilometer dan berada di kawasan perbukitan dengan titik puncak sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut.

Setiap tikungan diberi nomor sehingga karakter jalur tersebut menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Jalur tersebut juga dikenal dengan nama dalam bahasa Minangkabau, “Kelok Ampek Puluah Ampek”. Bagi wisatawan, perjalanan melewati kelokan bukan hanya perpindahan dari satu tempat menuju tempat lain, tetapi sekaligus perjalanan menikmati panorama alam.

See also  Trenggono Mundur dari TNI, Masuk Pucuk Pimpinan BGN

Kelok 44 juga pernah menjadi bagian penting dalam ajang balap sepeda Tour de Singkarak.

Karakter tikungannya yang tajam dan medan yang menantang membuatnya dikenal sebagai salah satu rute yang menguji kemampuan para pesepeda.

Sejumlah sumber sejarah lokal menyebut pembangunan jalur tersebut berkaitan dengan masa kolonial Belanda. Namun, detail sejarah pembangunannya tidak selalu tercatat secara seragam.

Karena itu, informasi mengenai sejarah Kelok 44 lebih tepat disampaikan dengan menyebut bahwa jalur tersebut telah ada sejak masa kolonial berdasarkan berbagai sumber, tanpa mengklaim satu versi sejarah sebagai satu-satunya kebenaran.

Persamaan Kelok 23 dan Kelok 44 terletak pada satu hal penting: keduanya membuktikan bahwa jalan dapat mempunyai nilai lebih daripada fungsi mobilitas.

Kelok 44 menunjukkan bagaimana jalur yang menantang dapat menjadi ikon wisata. Sementara Kelok 23 memiliki kesempatan untuk membangun identitas serupa sejak awal pembukaannya.

Perbedaannya tentu sangat jelas. Kelok 44 sudah lama digunakan dan dikenal sebagai bagian dari lanskap wisata Danau Maninjau.

Kelok 23 masih berada dalam tahap awal pemanfaatan dan belum dibuka penuh sepanjang hari. Karena itu, terlalu dini apabila Kelok 23 langsung dibandingkan dari sisi popularitas maupun kematangan destinasi.

Namun, perbandingan tersebut tetap penting sebagai inspirasi.

Kelok 23 memiliki modal alam yang tidak kalah menarik.

Jalurnya berada di kawasan selatan Yogyakarta yang dikenal dengan bentang pantai dan perbukitan. Dari beberapa titik, pengguna jalan dapat menikmati pemandangan Samudra Hindia.

Apabila pemerintah mampu merancang kawasan tersebut secara terpadu, Kelok 23 bukan mustahil berkembang menjadi koridor wisata baru.

Jalan, panorama, UMKM, desa wisata, pantai dan destinasi budaya dapat dirangkai menjadi satu paket perjalanan.

Wisatawan yang sebelumnya hanya datang ke satu pantai dapat diarahkan mengunjungi beberapa titik sekaligus.

Mereka dapat menikmati Parangtritis, bergerak melalui Kelok 23, mengunjungi kawasan pesisir Gunungkidul, menikmati kuliner lokal dan kemudian bermalam di kawasan selatan.

Inilah yang dimaksud dengan memperpanjang lama tinggal wisatawan.

Semakin lama wisatawan berada di suatu daerah, semakin besar peluang belanja yang tercipta.

Pengeluaran tersebut dapat mengalir kepada pelaku transportasi, penginapan, restoran, pedagang kecil, pemandu wisata, pengelola objek wisata hingga pelaku ekonomi kreatif.

Dengan kata lain, pembangunan jalan dapat berubah menjadi pembangunan ekonomi apabila konektivitas diikuti strategi pariwisata yang tepat.

Namun, masyarakat juga perlu menjaga agar perkembangan tersebut tidak mengorbankan lingkungan. Kawasan perbukitan dan pesisir memiliki karakter ekologis yang harus diperhatikan.

See also  Dari Guncangan Singkat, Detik-Detik Bumi Bergetar di Flores Timur

Pembangunan fasilitas wisata harus memperhitungkan daya dukung lingkungan, pengelolaan sampah, air, sanitasi dan keselamatan.

Kelok 44 juga memberikan pelajaran bahwa jalan yang indah sekaligus menantang membutuhkan kewaspadaan.

Tikungan tajam dan kondisi medan membuat pengendara harus memastikan kendaraan dalam kondisi baik serta tidak memacu kendaraan secara berlebihan.

Pengalaman Kelok 44 memperlihatkan bahwa panorama indah dan keselamatan harus berjalan beriringan.

Pesan serupa disampaikan Sultan kepada pengguna Kelok 23: jangan hanya terpukau oleh panorama, tetapi tetap mengutamakan keselamatan.

Karena Kelok 23 masih dalam tahap uji coba, masyarakat yang ingin menjajal jalur tersebut sebaiknya datang dengan kesadaran bahwa ruas tersebut belum beroperasi penuh.

Jam operasional selama masa uji coba adalah 06.00–18.00 WIB dan pengguna wajib mengikuti seluruh ketentuan yang berlaku.

Pada akhirnya, Kelok 23 dan Kelok 44 menghadirkan dua cerita berbeda tentang bagaimana jalan dapat menjadi bagian dari identitas sebuah daerah.

Kelok 44 telah lebih dahulu membuktikan bahwa tikungan tajam dapat berubah menjadi daya tarik wisata. Kelok 23 kini memiliki kesempatan membangun cerita baru di selatan Yogyakarta.

Keduanya bukan sekadar angka.

Kelok 23 adalah simbol konektivitas baru yang membuka kemungkinan perjalanan lebih luas di Bantul dan Gunungkidul. Kelok 44 adalah ikon perjalanan yang telah lama melekat dengan panorama Danau Maninjau.

Jika dikelola dengan baik, keduanya dapat menjadi contoh bahwa infrastruktur, pariwisata dan ekonomi masyarakat bisa bergerak dalam satu arah.

Maka, bagi para pencinta perjalanan, dua jalur ini layak dimasukkan dalam daftar pengalaman wisata Nusantara. Satu berada di selatan Yogyakarta dengan pesona Samudra Hindia, satu lagi berada di perbukitan Agam dengan panorama Danau Maninjau.

Tentu saja, bukan sekadar datang untuk mengejar foto atau menaklukkan tikungan.

Datanglah untuk menikmati alam, menghargai masyarakat lokal, membeli produk UMKM, menjaga kebersihan, mematuhi rambu dan memastikan perjalanan tetap aman.

Semoga suatu hari semakin banyak wisatawan dapat mengunjungi keduanya—Kelok 23 di Yogyakarta dan Kelok 44 di Sumatera Barat—bukan hanya sebagai jalur yang dilewati, tetapi sebagai pengalaman perjalanan yang dikenang.

Sebab pada akhirnya, jalan yang baik bukan hanya menghubungkan tempat dengan tempat.

Jalan yang dikelola dengan visi jauh ke depan juga dapat menghubungkan masyarakat dengan peluang, wisatawan dengan pengalaman, dan daerah dengan masa depan ekonominya. | BerageNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Viewed Posts

Media Sosial

LAINNYA
x