x
SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] RM BERAGE MANGGAR SEDIA ANEKA KULINER ALAMAT DEPAN KANTOR POLRES BELITUNG TIMUR [B#NEWS] SELAMAT DATANG DI MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SIAP MELAYANI PRIBADI & KELUARGA LEBIH TETAPT NYAMAN & PENUH PESONA [B#NEWS] INDRI TOUR TRAVEL RENTAL SILAHKAN HUBUNGI +62 895 330 99999 3 [B#NEWS] MEDIA ONLINE BERAGENEWS.COM HUBUNGI +62 877 495 0000 1 [B#NEWS]

Tabanan Menguatkan Pariwisata Berbasis Alam, Budaya & Subak

8 minutes reading
Monday, 28 Sep 2026 02:16 340 BerageNews.Com

BerageNews.Com | ArtaSAriMediaGroup ~ Kabupaten Tabanan terus menempatkan pertanian, alam, budaya dan kehidupan masyarakat sebagai fondasi pengembangan pariwisata, dengan Jatiluwih, Tanah Lot, kawasan Bedugul, desa wisata, pantai serta berbagai tradisi lokal menjadi bagian penting dari daya tarik daerah.

Pola tersebut membuat Tabanan memiliki karakter berbeda dari kawasan Bali Selatan yang lebih padat, sekaligus menghadirkan tantangan untuk menjaga lahan pertanian, sistem Subak, lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat agar pertumbuhan kunjungan wisata tidak menghilangkan sumber daya yang justru menjadi daya tarik utamanya.

Dokumen Pemerintah Kabupaten Tabanan sendiri menegaskan posisi daerah tersebut sebagai sentra pangan Bali atau “lumbung beras”, sementara kebijakan daerah mengarahkan pengembangan pariwisata agar terintegrasi dengan pertanian dan kearifan lokal.

Jatiluwih menjadi salah satu gambaran paling kuat mengenai hubungan antara pertanian dan pariwisata di Tabanan.

Lanskap persawahan bertingkat di kawasan Penebel merupakan bagian dari Cultural Landscape of Bali Province: the Subak System as a Manifestation of the Tri Hita Karana Philosophy, yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO.

Sistem Subak tidak sekadar menghadirkan pemandangan persawahan, tetapi merupakan tata kelola air dan kehidupan pertanian yang berkaitan dengan kelembagaan masyarakat serta nilai budaya Bali.

UNESCO mencatat bahwa sistem tersebut memiliki aturan tradisional, termasuk awig-awig, dan pengelolaannya menjadi bagian dari upaya mempertahankan nilai universal luar biasa kawasan.

Pengakuan internasional itu kemudian memperluas posisi Jatiluwih dari sekadar kawasan pertanian menjadi destinasi yang mempertemukan wisata alam, budaya, edukasi dan agrowisata.

Pemerintah melalui Indonesia Travel juga menampilkan Festival Jatiluwih sebagai kegiatan yang memperkenalkan proses budaya Subak, termasuk tahapan tradisional pengelolaan sawah terasering.

Festival tersebut menunjukkan bahwa kegiatan wisata dapat diarahkan untuk memperkenalkan kehidupan masyarakat, bukan hanya menghadirkan wisatawan untuk mengambil gambar hamparan sawah.

Kajian akademik mengenai Jatiluwih memperkuat pendekatan tersebut.

Penelitian Universitas Dhyana Pura Bali dan Universitas Udayana mengenai community based tourism menyimpulkan bahwa pengelolaan Jatiluwih telah menerapkan prinsip ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, pemeliharaan budaya dan kepuasan wisatawan.

Penelitian lain mengenai partisipasi petani menyebut pengembangan agrowisata dapat menjadi instrumen untuk mempertahankan keberadaan Subak sekaligus membantu mengendalikan perubahan fungsi lahan pertanian.

Namun, pengembangan destinasi tidak berarti Tabanan bebas dari persoalan.

UNESCO pada keputusan konservasi 2025 secara khusus mencatat adanya tekanan pariwisata dan pembangunan terkait di kawasan Warisan Dunia Bali, terutama Jatiluwih.

See also  Duka di Lampung Tengah, Jejak yang Hilang di Lebung Sunyi

UNESCO menyebut lanskap tersebut sangat rentan terhadap peningkatan tekanan wisata dan masuknya pembangunan ke area persawahan yang dapat menyebabkan fragmentasi terasering serta melemahkan kewenangan Subak.

Catatan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pariwisata harus diukur bukan hanya dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari kemampuan menjaga lanskap dan sistem budaya yang menjadi fondasinya.

Data kunjungan juga menunjukkan bahwa popularitas destinasi tidak selalu bergerak naik.

DetikBali melaporkan jumlah wisatawan Jatiluwih sepanjang 2025 sekitar 388 ribu orang sampai 30 Desember, turun dibandingkan sekitar 445 ribu kunjungan pada 2024.

Informasi tersebut dikutip dari Sekretaris DTW Jatiluwih, I Putu Eka Saputra. Angka itu menunjukkan bahwa pengelola destinasi tetap perlu melakukan inovasi agar wisatawan memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan kembali berkunjung, tanpa mengorbankan karakter agraris kawasan.

Langkah ke arah tersebut terlihat pada 2026.

DTW Jatiluwih mengembangkan berbagai atraksi agar wisatawan tidak sekadar datang untuk melihat persawahan. DetikBali melaporkan pengelola mendorong pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat agraris.

Pendekatan semacam ini dapat memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat sekaligus mengubah pola kunjungan dari wisata berbasis pemandangan menjadi wisata berbasis pengalaman.

Penelitian terbaru yang terbit pada 2026 juga mengkaji pengembangan community-based green tourism di Lanskap Budaya Jatiluwih.

Studi tersebut melibatkan 14 ahli dari unsur pemerintah, pengelola destinasi, masyarakat, petani, pelaku usaha pariwisata, akademisi dan media.

Fokusnya adalah menemukan hubungan antara faktor-faktor yang menentukan keberlanjutan pariwisata berbasis masyarakat, termasuk kelestarian lingkungan, pelestarian budaya dan kolaborasi pemangku kepentingan.

Temuan semacam ini relevan karena masa depan Jatiluwih tidak dapat ditentukan hanya oleh pemerintah atau pelaku industri, melainkan membutuhkan keterlibatan masyarakat yang hidup dari kawasan tersebut.

Kajian Universitas Udayana yang diterbitkan pada akhir 2025 juga menemukan bahwa atribut destinasi dan kualitas layanan berpengaruh signifikan terhadap niat wisatawan untuk melakukan kunjungan kembali ke Agrowisata Subak Jatiluwih.

Peneliti merekomendasikan perhatian lebih terhadap informasi wisata, aksesibilitas serta aktivitas berbasis alam dan budaya. Artinya, menjaga sawah tetap lestari perlu berjalan bersama peningkatan kualitas pengalaman wisatawan.

Di sisi lain, Tabanan tidak hanya mengandalkan Jatiluwih. Tanah Lot di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, merupakan salah satu ikon wisata budaya dan pesisir yang paling dikenal.

Indonesia Travel menjelaskan bahwa kawasan tersebut berpusat pada Pura Luhur Tanah Lot yang berada di atas formasi batu karang di pesisir.

See also  Lawan Indonesia di FIFA Series 2026 ; Momentum Mengasah Mental

Saat air laut pasang, batu tempat pura berdiri tampak terpisah dari daratan, menciptakan lanskap yang menjadi salah satu daya tarik visual Bali.

Kawasan Tanah Lot juga menggabungkan unsur tempat suci, pesisir, ruang terbuka, persawahan dan fasilitas wisata.

Berbeda dengan karakter pesisir Tanah Lot, kawasan Bedugul menawarkan lanskap dataran tinggi. Pura Ulun Danu Beratan yang berada di tepi Danau Beratan menjadi salah satu ikon visual kawasan tersebut.

Lingkungan pegunungan, danau, kebun serta udara yang lebih sejuk membentuk karakter wisata yang berbeda dari kawasan pantai. Tabanan dengan demikian memiliki bentang wisata yang relatif lengkap, mulai dari pesisir hingga dataran tinggi.

Pemerintah Kabupaten Tabanan juga telah menempatkan berbagai kawasan sebagai bagian dari strategi pengembangan wilayah.

Dokumen perencanaan daerah mencantumkan Kawasan Efektif Pariwisata Bedugul, Soka dan Tanah Lot sebagai kawasan strategis dari sisi pertumbuhan ekonomi.

Di sisi sosial budaya, kawasan Pura Batukaru, Tanah Lot, Pakendungan dan Catur Angga Batukaru-Jatiluwih juga memperoleh posisi strategis.

Sementara Kebun Raya Bedugul, Museum Mandala Mathika Subak dan sejumlah fasilitas lainnya diarahkan untuk wisata pendidikan dan penelitian.

Desa wisata memperluas pilihan tersebut. Pinge, Beraban, Nyambu dan Tista merupakan contoh kawasan yang dapat menawarkan pengalaman pedesaan, budaya, aktivitas luar ruang dan interaksi dengan masyarakat.

Konsep ini penting karena wisatawan tidak hanya mencari objek untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang memberikan pemahaman mengenai cara hidup masyarakat setempat.

Kekuatan lain Tabanan berada pada wisata religi dan budaya. Selain Tanah Lot dan Ulun Danu Beratan, terdapat Pura Batukaru, Alas Kedaton, Vihara Dharma Giri serta berbagai ruang budaya dan spiritual lainnya.

Kehadiran destinasi tersebut memperlihatkan bahwa pariwisata Tabanan tidak semata-mata berbasis panorama alam. Nilai sejarah, agama, arsitektur, tradisi dan hubungan manusia dengan lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Pantai Balian dan Pasut menambah karakter pesisir Tabanan. Kawasan pantai barat tersebut dikenal dengan lanskap pasir hitam dan aktivitas wisata bahari.

Potensinya dapat dikembangkan melalui olahraga, rekreasi, fotografi, kuliner lokal dan pengalaman menikmati matahari terbenam, dengan tetap memperhatikan daya dukung lingkungan.

Di tengah ekspansi pariwisata, status Tabanan sebagai lumbung pangan tetap menjadi isu penting.

Pemerintah Kabupaten Tabanan mencatat luas sawah sekitar 19.991 hektare, dengan sekitar 16.034 hektare ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dalam dokumen perencanaan.

See also  Sosialisasi P5HAM di Babel ; Melati, Dorong Pendidik Jadi Agen Perubahan

Angka tersebut menunjukkan bahwa perlindungan lahan pertanian bukan sekadar slogan, melainkan bagian penting dari tata ruang dan ketahanan pangan daerah.

Ancaman alih fungsi lahan juga telah lama menjadi perhatian.

Pemerintah daerah dalam berbagai dokumen menempatkan perlindungan pertanian sebagai kebutuhan strategis, sementara kajian dan pemberitaan sebelumnya mengingatkan bahwa berkurangnya sawah dapat berdampak ganda: mengurangi produksi pangan sekaligus menghilangkan lanskap yang selama ini menjadi daya tarik wisata.

Dengan kata lain, sawah Tabanan memiliki fungsi ekonomi ganda sebagai ruang produksi pangan sekaligus aset budaya dan pariwisata.

Karena itu, masa depan pariwisata Tabanan membutuhkan keseimbangan yang terukur.

Pembangunan fasilitas wisata perlu mengikuti daya dukung lingkungan, sementara masyarakat lokal—terutama petani dan komunitas Subak—perlu memperoleh manfaat yang proporsional.

UNESCO sendiri menekankan perlunya penguatan pengelolaan kawasan dan perlindungan terhadap nilai universal Warisan Dunia Bali.

Model tersebut sekaligus membuka peluang inovasi ekonomi.

Agrowisata dapat dikembangkan melalui pengalaman bertani, jalur interpretasi Subak, kuliner berbasis hasil pertanian, produk UMKM, homestay, kegiatan edukasi, wisata sepeda dan paket budaya.

Penelitian tentang konservasi Subak melalui agrowisata yang diterbitkan pada 2026 juga secara khusus menempatkan agrowisata sebagai salah satu pendekatan yang dapat dikaji untuk mendukung keberlanjutan Subak.

Dengan modal alam, budaya dan pertanian yang kuat, Tabanan mempunyai ruang besar untuk membangun citra sebagai destinasi yang menawarkan pengalaman Bali yang lebih berorientasi pada lanskap, komunitas dan kebudayaan.

Namun, arah tersebut harus dibangun dengan prinsip bahwa sawah bukan sekadar latar foto, Subak bukan sekadar objek pertunjukan, dan tradisi bukan sekadar komoditas wisata.

Tabanan pada akhirnya menghadapi pilihan pembangunan yang saling berkaitan: memperbesar manfaat ekonomi pariwisata sambil mempertahankan pertanian, lingkungan dan kebudayaan sebagai fondasinya.

Jatiluwih telah menunjukkan bahwa sawah dapat menjadi Warisan Dunia sekaligus ruang kehidupan. Tanah Lot menunjukkan bahwa tempat suci dapat berdampingan dengan aktivitas wisata.

Bedugul memperlihatkan kekuatan lanskap pegunungan, sementara desa-desa wisata menghadirkan kehidupan masyarakat sebagai bagian dari pengalaman perjalanan.

Jika prinsip tersebut dijaga secara konsisten, pariwisata Tabanan bukan hanya menjual pemandangan, tetapi menghadirkan cerita mengenai hubungan manusia, alam, pangan, budaya dan spiritualitas Bali.

Di situlah kekuatan utama “Lumbung Beras Bali” dapat berjalan beriringan dengan pariwisata berkelanjutan: wisata tumbuh, masyarakat memperoleh manfaat, dan sawah serta kebudayaan tetap menjadi bagian hidup Tabanan, bukan sekadar kenangan masa lalu. | BerageNews.Com | */Redaksi | *** |

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Viewed Posts

Media Sosial

LAINNYA
x